Penduduk di Pulau Solomon, ketika akan membuka lahan
bercocok tanam di dalam hutan, konon tidak perlu menebang dan membakar
hutan. Mereka cukup beramai-ramai mengitari tiap pohon sambil
berteriak-teriak jorok, membentak dan berkata kasar. Dengan cara ini,
ternyata selang beberapa hari sesudahnya pohon-pohonan layu, kering,
mati, dan akhirnya tumbang.
Selama ini tanpa sadar kita mungkin
telah ”membunuh” anak, baik anak kita sendiri maupun anak didik kita,
dengan cara yang hampir sama dengan cara orang Solomon: membentak keras
saat anak melakukan kesalahan, mengucapkan kata-kata kasar, dan memberi
stigma buruk dengan kata bodoh, ceroboh, malas, dan sebagainya. Maka
jadilah anak-anak yang benar-benar bodoh, ceroboh, malas, dan lain-lain
sebagaimana kita ucapkan.
Berhati-hatilah! Sebab rasanya tidak
mungkin kita berniat ”membunuh” anak kita atau murid kita. Kita ingin
mereka berkembang menjadi manusia dewasa yang mandiri, terampil,
berkepribadian luhur, dan memiliki tanggung jawab. Tak mungkinlah kita
berharap agar anak-anak kita menjadi ”layu”, dan akhirnya ”mati”.
Ketika
kisah penduduk di Pulau Solomon ini saya share ke facebook saya, ada
komentar teman yang mencoba menghibur saya: ”Ah, masak segitunya, Bang?”
Sepertinya,
teman saya menganggap saya membesar-besarkan masalah. Memang, kisah
yang saya ceritakan di atas mungkin terlalu dramatis, saya akui. Saya
memang terpengaruh dengan sebuah dealog dalam film India berjudul ”Taare
Zamen Par”. Tapi esensinya sangat penting dan realistis untuk kita
implementasikan dalam pendidikan anak-anak kita.
Film ini
mengisahkan seorang anak jenius tetapi mengalami kesulitan mengingat
simbol angka maupun huruf. Huruf ”b” bertukar dengan huruf ”d”, huruf
”z” dengan ”s”, angka ”6” dengan angka ”9”, dan sebagainya. Ketika
membaca buku, si anak jenius melihat huruf-huruf bergerak-gerak seperti
menari-nari. Dia pun tertawa tanpa sepatah kata pun terucapkan.
Lalu,
guru menilainya sebagai anak bodoh, anak terbelakang, dan anak nakal.
Di rumah si anak mengalami kekerasan dari ayahnya dan membandingkannya
dengan kakaknya yang selalu penurut dan juara pelajaran maupun olah
raga.
Untunglah, ketika si anak diasingkan di sebuah sekolah
berasrama, dia bertemu dengan sosok seorang guru yang humanis, sabar,
empatik, nyeni, dan pernah mengalami kasus yang sama dengan si anak
jenius. Di sinilah kemudian terungkap bahwa si anak ini mengalami
kelainan bawaan yang bernama ”dislexia”. Dia jenius, tapi memang butuh
perlakuan khusus.
Guru ini berhasil menolong anak jenius
berkembang dengan kecerdasan melebihi anak-anak pintar di kelasnya, pada
saat hampir saja anak itu mengalami depresi, putus asa dan ”mati”.
Ternyata,
Albert Einstein, Leonardo da Vinci, Bill Gates, James Watt, Thomas Alfa
Edison, Agatha Christie dan tokoh-tokoh lain dalam sejarah dunia adalah
anak-anak ”dislexia”.
Alangkah sayangnya kalau tokoh-tokoh yang
banyak mengubah dunia ini tak tertolong saat kecilnya. Dan mungkin
banyak anak-anak seperti ini ada di sekitar kita.
Sebuah
pencerahan bagi kita, baik sebagai orang tua maupun seorang guru:
Terimalah anak-anak kita apa adanya. Bantulah mereka saat mengalami
kesulitan, sugestilah dengan kata-kata positif, dan biarlah mereka
berkembang sesuai jati dirinya. Tanpa kekerasan, tanpa kata-kata kotor,
dan tanpa stigma buruk. Hentikan memvonis anak kita dengan kata ”dasar
bodoh”, ”dasar malas”, ”dasar bandel”, dan sejenisnya!
Ada sebuah
penelitian yang diceritakan Ajah Brahm, seorang Amerika lulusan Fisika
yang memilih menjadi biksu di pedalaman hutan Thailand. Anak-anak satu
jenjang pendidikan dibagi dua kelas, kelas A dan kelas B. Kelas A diberi
label kelas unggulan dan kelas B diberi label kelas biasa.
Tanpa
sepengetahuan siapa-siapa (kecuali peneliti), anak-anak dalam kedua
kelas itu sebenarnya pada awalnya dapat dikatakan homogen, atau tidak
ada perbedaan yang siginikan. Sama-sama pintar, sama-sama cerdas. Lalu,
keduanya diajar dengan guru-guru yang sama, metode yang sama dan
fasilitas yang sama. Perbedaan perlakuan hanya pada pemberian label
unggulan dan biasa.
Apa yang terjadi pada akhir tahun? Anak-anak
dalam kelas unggulan ternyata memiliki prestasi yang benar-benar unggul,
sementara anak-anak dalam kelas biasa, prestasinya juga biasa-biasa
saja. Sebuah bukti ilmiah bahwa anak-anak akan menjadi yang seperti kita
labelkan padanya.
by.. MULYOTO, Guru Matematika SMK Negeri 1 Pungging Mojokerto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar