“ Aku melihat sorot mata
yang menatap tajam tubuh rapuhku, dan aku rasakan hangatnya kasih sayang
dari tatapmu. Saat aku harus terpaksa tersungkur dalam perjalanan, saat
aku harus menangis dalam keta’mengertian. Sekejap, bahagia mengalir
dalam aliran darahku. Karena setiap kata yang kau ucap, bagai suntikan
darah baru yang menggantikan darah pengecutku, menggantikan darah
kerapuhanku.
Sekarang
aku jauh darimu, disudut kota yang aku tak mengenalnya. Dan jarang
sekali aku melihat tatapan itu lagi, jarang sekali aku menikmati senyum
manis yang sejukkan hati. Tapi indah senandungmu masih terngiang dalam
sisi ruang telingaku, dan tak akan pernah aku hapus. Kau tau….? Disini
aku-pun kadang terjatuh, aku tak mampu menahan hempasan kesedihan yang
terkadang sangat kejam menerpaku. Tapi setidaknya aku masih menyimpan
kidung yang pernah kau lantunkan untukku, hingga bisa selalu aku dengar.
Aku masih punya rangkaian kata indahmu, untuk selalu aku resapi. Dengan
itulah aku kembali berdiri, kembali menatap apa yang aku cari.
Meski
saat ini kita tak bersama, tapi indah kasihmu masih membelai lembut
hati. Meski tubuhmu saat ini tak ada disampingku, tapi hangat pelukmu
masih terasa, saat dingin menyelimuti.
Aku
hanya tak ingin menyakitimu, aku takut air mata menetes dari mata
indahmu hanya karena keta’warasanku. Aku akan tetap berusaha menjaga
hatiku untukmu, aku akan tetap menjaga kasih sayangmu. Karena kasih
sayangmu sangat aku butuhkan dalam setiap jejak langkahku, karena
manisnya senyummu, hangatnya pelukmu, akan selalu membawa angin sejuk
untukku. Dan percayalah, aku akan tetap menjadi anak terbaikmu. untukmu
IBU ” .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar